Kedua Capres Klaim sebagai `Pemenang` Pilpres 2014

Indonesian Presidential Camps Both Claim `Win`

Reporter : Rizki Saleh
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Kedua Capres Klaim sebagai `Pemenang` Pilpres 2014
Jokowi mengumumkan hasil hitung cepat (quick count) delapan lembaga survei di Tugu Proklamasi Jakarta (Foto2: B2B/Mac)

INDONESIA harus menunggu dua pekan untuk mengetahui pemenang resmi Pemilihan Presiden setelah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), setelah kedua calon presiden menyatakan kemenangan dalam pemilihan umum.

Hampir 190 juta orang Indonesia ikut memilih presiden di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia pada Rabu, mengakhiri masa kampanye yang suara pemilih terpolarisasi sejak jatuhnya Soeharto, seperti dilansir MailOnline.

Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, telah memimpin sekitar 25 persen dalam jajak pendapat hingga masa kampanye menghadapi calon presiden Prabowo Subianto yang didukung partai koalisi besar.

Dalam hasil perhitungan "quick count" setelah pemungutan suara Rabu ditutup, Jokowi dinyatakan menang 53% suara atas Prabowo dengan perolehan suara 47%.

Itu sudah cukup bagi mantan presiden Megawati Sukarnoputri, ketua umum PDI Perjuangan, partai pengusung utama Jokowi, menangis dengan sukacita seperti tampak di layar televisi.

Tapi calon presiden terpilih Jokowi memilih bersikap tenang.

"Berdasarkan pengumuman dari quick count hingga saat ini menunjukkan Jokowi-JK adalah pada titik menang," katanya kepada wartawan.

Tapi kubu Prabowo mengatakan berdasarkan jajak pendapat versinya, mereka memimpin hasil quick count, dan diputuskan untuk dikonfirmasikan melalui penghitungan resmi KPU. Para pendukung Prabowo meneriakkan "Prabowo Presiden!" kata mantan jenderal di depan para pendukungnya.

"Kami bersyukur bahwa dari semua laporan yang masuk, kami ... menerima dukungan dan mandat dari rakyat Indonesia," kata Prabowo.

Hasil hitung cepat menyatakan telah terbukti akurat.

Kini, dengan kedua belah pihak mengklaim sebagai pemenang Pilpres, Indonesia harus menunggu sampai hasil resmi penghitungan suara dari KPU, pada 22 Juli mendatang.

Ketidakpastian hasil Pilpres tidak menghalangi Jokowi bersama para pendukungnya merayakan hasil penghitungan cepat.

Setibanya di Tugu Proklamasi di Jakarta Pusat, Jokowi menyatakan keyakinan kemenangannya dari versi hitung cepat, dan awal dari sebuah babak baru bagi Indonesia.

"Ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Jokowi juga menyatakan hormat kepada Prabowo dan calon wakil presidennya Hatta Rajasa sebagai ´pahlawan bangsa´, dan menghargai kontribusi mereka terhadap demokrasi di Indonesia.

Kemudian, para pendukung Jokowi menyambut gembira kemenangan tersebut dengan melepaskan kembang api dan berparade di jalan-jalan Jakarta dan tidak ragu pada hasil Pilpres.

Tampak perbedaan kontras antara kedua kandidat yang melihat pemilu ini sebagai titik balik - titik di mana Indonesia akan melompat ke masa depan yang progresif atau kembali ke masa lalu.

Jokowi, 53, telah melakukan pemberantasan korupsi dan meningkatkan kesejahteraan sosial melalui kebijakan khasnya ketika menjabat gubernur Jakarta, dan banyak hasilnya, yang mewakili angin segar bagi pembangunan di Jakarta.

Di antara mereka adalah Mona Siregar, warga Jakarta yang melihat Jokowi sebagai sosok yang "jujur".

"Saya pikir dia bisa membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik," katanya.

Prabowo Subianto, 62, memiliki kaitan erat dengan rezim Soeharto dan telah menimbulkan kekhawatiran ia akan kembali menerapkan kekuasaan otoriter di Indonesia.

Meski dirundung tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu, banyak orang Indonesia yang tertarik pada Prabowo sebagai presiden seperti dikemukakan Tantri Murniati, warga Bekasi.

"Dia tegas, bermartabat, dan memiliki lebih banyak pengalaman dalam hubungan internasional," katanya.

Presiden yang memerintah saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono sesuai ketentuan undang-undang masa kepemimpinan sebagai presiden hanya boleh berkuasa selama dua periode di Indonesia.

INDONESIA will have to wait weeks to find out the official winner of its presidential race, after both sides declared a win in the bitterly-fought contest.

Almost 190 million Indonesians voted in the world´s third-biggest democracy on Wednesday, ending the most polarising campaign since the fall of Suharto.

Joko Widodo, or Jokowi, as he´s better known, had a lead of around 25 per cent in the polls until his rival Prabowo Subianto´s better planned and bankrolled campaign drew them almost level on the eve of the vote.

In indicative "quick count" results after Wednesday´s polls closed, Jokowi´s ticket had 53 per cent of the vote versus the Prabowo ticket´s 47 per cent.

It was enough for former president Megawati Sukarnoputri, the chairwoman of Jokowi´s party, to weep with joy on national TV.

But the would-be president was calm.

"Based on the announcement from quick counts until now it shows Jokowi-JK is at the point of winning," he told reporters.

But Prabowo´s camp said based on its preferred polling, their ticket was in front, and this would eventually be confirmed in the official results.

Surrounded by supporters chanting "Prabowo! President!" the ex-general gave a defiant statement.

"We´re grateful that from all reports coming in, we ... received the support and mandate of the Indonesian people," he said.

Quick counts have proven accurate in past elections.

Now, with both sides claiming a win, Indonesians will have to wait until official results from the full count, at the earliest on July 22.

The uncertainty didn´t stop Jokowi and his supporters from celebrating.

Arriving to a guard of honour in a central Jakarta park, he declared his confidence in the quick count numbers, and the start of a new chapter for Indonesia.

"This is the victory of all people of Indonesia," he said.

Jokowi also paid tribute to "patriots" Prabowo and his vice presidential candidate Hatta Rajasa, saying he appreciated their contribution to democracy.

Later, jubilant Jokowi supporters let off fireworks and paraded in Jakarta´s streets with no doubts about the election result.

The huge contrast between the candidates has seen this election billed as a turning point - a point where Indonesia will leap into a newly progressive future or look to the past.

Jokowi, 53, has made eradicating corruption and improving social welfare his trademark policies as Jakarta´s governor, and to many, he represents a breath of fresh air.

Among them were Jakarta voter Mona Siregar, who sees him as an "honest" man.

"I think he can lead Indonesia to become a better nation," she said.

Subianto, 62, has deep roots in the Suharto era and has raised fears he would return authoritarian rule to Indonesia.

Although dogged by allegations of past human rights abuses, many Indonesians are drawn to Prabowo for the authority he projects, like Tantri Murniati, of Bekasi, outside Jakarta.

"He´s strict, he has dignity, and has more experience in international business," she said.

Current president Susilo Bambang Yudhoyono is barred from seeking a third term in office.