Jaminan Kehalalan Produk Hewani, UPT Kementan Sertifikasi 80 Juru Sembelih Halal
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Bogor, Jabar (B2B) - Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan, kesehatan, dan kehalalan produk pangan asal hewan, kompetensi Juru Sembelih Halal (Juleha) menjadi faktor krusial yang tidak dapat diabaikan sesuai kaidah syariat, prinsip higienis dan sanitasi serta standar kesejahteraan hewan.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan guna menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara menggelar ´Sertifikasi Kompetensi Juleha´ yang diikuti 80 peserta dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Pemuda Tani Indonesia (PTI), pada Rabu (15/4).
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci utama memperkuat sektor pertanian nasional.
“Pembangunan pertanian tidak bisa dilepaskan dari kualitas SDM. Kita harus memastikan setiap pelaku di sektor ini memiliki kompetensi terstandar agar mampu menghasilkan produk yang aman berkualitas dan berdaya saing,” katanya.
Kegiatan ´Sertifikasi Kompetensi Juleha´ dibuka oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti.
Kabadan SDM Kementan dalam sambutannya menegaskan bahwa penguatan kompetensi SDM merupakan fondasi utama dalam menjawab tantangan sektor pertanian modern.
“BPPSDMP memiliki peran strategis dalam meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan, penyuluhan, dan sertifikasi kompetensi yang terintegrasi.
BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan ´Sertifikasi Kompetensi Juleha´ menjadi langkah konkret memastikan proses pemotongan hewan sesuai kaidah syariat, prinsip higienis dan sanitasi dan standar kesejahteraan hewan sehingga mampu menjamin kualitas dan kehalalan produk yang dikonsumsi masyarakat.
"Di era saat ini, ketika masyarakat semakin kritis terhadap kualitas dan kehalalan produk, keberadaan juru sembelih halal yang kompeten menjadi sangat penting menjaga kepercayaan publik, sekaligus meningkatkan daya saing produk peternakan,” katanya.
Sejalan dengan arah kebijakan, Inneke Kusumawaty menyampaikan bahwa sertifikasi tidak hanya menjadi agenda pelatihan, juga wujud nyata sinergi lintas sektor menjawab kebutuhan lapangan.
“Ini merupakan momentum istimewa bagi kami, karena melalui kegiatan ini kita menunjukkan sinergi konkret antara birokrasi, praktisi, akademisi dan asosiasi," ungkapnya.
Lebih dari itu, kegiatan ´Sertifikasi Kompetensi Juleha´ adalah tindak lanjut nyata dari program sebelumnya, sehingga setiap kegiatan memberikan manfaat langsung bagi para pelaku di lapangan.
Penguatan kompetensi ini, lanjut Inneke, menjadi semakin relevan seiring meningkatnya tuntutan terhadap standar produk pangan yang tidak hanya halal, tetapi juga aman dan berkualitas.
Pandangan tersebut diperkuat oleh perwakilan Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian, Jayawarman Alam Prabu, yang menegaskan bahwa sertifikasi kompetensi bukan sekadar formalitas administratif.
“Ini bukan hanya pemberian bukti kompetensi, tetapi merupakan tanggung jawab profesional dalam menjamin mutu dan kehalalan produk pangan asal hewan.
Standar Kompetensi
Kompetensi juru sembelih mencakup pemahaman syariat, keterampilan teknis, higiene sanitasi, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesejahteraan hewan,” paparnya.
Dengan standar kompetensi yang terukur, produk peternakan Indonesia akan memiliki daya saing lebih kuat, baik di pasar domestik maupun internasional.
Sementara itu Wakil Ketua Umum DPP HKTI Bidang Peternakan Cecep Muhammad Wahyudin menyoroti pentingnya aspek legalitas dan sertifikasi profesi juru sembelih halal.
“Pengakuan legal terhadap profesi ini sangat penting. Tanpa standar jelas dan tenaga tersertifikasi, potensi kerugian tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, juga masyarakat luas sebagai konsumen. Kepercayaan publik bisa tergerus jika prosesnya tidak sesuai ketentuan,” tegasnya.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Mentan Bidang Pembinaan Petani Muda, RS Suroyo Jr melihat kegiatan terssbut sebagai bagian dari upaya regenerasi SDM pertanian dan peternakan.
“Menariknya, peserta yang hadir tidak hanya didominasi usia di atas 40 tahun, juga banyak generasi muda. Menunjukkan bahwa regenerasi berjalan dengan baik, dan sektor ini mulai diminati oleh kalangan yang lebih muda,” ungkapnya.
Inneke Kusumawaty mengatakan BBPKH Cinagara berupaya terus memperkuat peran mencetak SDM peternakan yang kompeten, profesional dan berintegritas sekaligus memastikan bahwa setiap produk pangan asal hewan yang beredar di masyarakat memenuhi standar halal, aman, dan berkualitas. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical
Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the
country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to
improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The
objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to
increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and
skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of
crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the
income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian
Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s
commitment to developing agriculture, especially in the development of
advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The
goal is to increase the income of farming families and ensure national
food security. Farmer regeneration is a commitment that we must
immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that
increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart
agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse
gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp
areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through
vocational education, we connect campuses with industry so that
Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things,"
Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
