UPT Pelatihan Kementan Buka Peluang Usaha Bernilai Tambah Jamur Tiram Putih
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmer
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Gowa, Sulsel (B2B) - Petani didorong tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, juga mampu mengolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Penguatan hilirisasi menjadi salah satu strategi Kementerian Pertanian RI (Kementan) mengembangkan agribisnis, memperluas peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pertanian.
Upaya tersebut dibahas pada kegiatan Bertani on Cloud (BoC) Volume 373 yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku secara daring, Kamis (29/10), bertajuk ´Hilirisasi Jamur Tiram Putih Berbasis Agribisnis Berkelanjutan´.
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani yang membuka kegiatan BoC Volume 373 menekankan tentang pentingnya membangun keberanian dan kemampuan masyarakat pertanian dalam mengembangkan usaha.
Upaya Kementan sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, juga harus memberikan dampak nyata pada kesejahteraan petani melalui pengembangan usaha dan peningkatan nilai tambah komoditas.
“Petani didorong tidak hanya menjadi produsen bahan baku, juga mampu menjadi pelaku usaha yang menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi,” katanya.
Senada hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya peningkatan kompetensi petani melalui pelatihan, pendampingan dan penguatan kelembagaan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).
"P4S memiliki peran strategis sebagai wadah pembelajaran yang memungkinkan petani saling berbagi pengalaman, mengembangkan inovasi, serta meningkatkan kemampuan mengelola usaha pertanian secara profesional dan berkelanjutan." katanya.
Kabadan Santi mengharapkan P4S menjadi wadah pembelajaran bagi petani berbagi pengalaman, mengembangkan inovasi dan meningkatkan kemampuan mengelola usaha pertanian secara profesional dan berkelanjutan.
BBPP Batangkaluku
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengingatkan, potensi pertanian harus dimanfaatkan secara optimal, termasuk melalui pengolahan hasil panen agar menghasilkan nilai tambah.
Dia mendorong penguatan P4S sebagai pusat pembelajaran sekaligus penggerak kewirausahaan pertanian di daerah.
Melalui P4S, pengalaman dan praktik usaha yang telah berkembang dapat dibagikan kepada masyarakat sehingga semakin banyak petani yang terdorong untuk berinovasi dan membangun usaha secara mandiri.
Melalui BoC, Kementan khususnya BBPP Batangkaluku terus memperluas akses pembelajaran dan informasi bagi masyarakat pertanian.
Penguatan kompetensi SDM, pengembangan P4S, serta percepatan hilirisasi menjadi bagian dari upaya membangun agribisnis yang berkelanjutan.
"Dengan demikian, petani diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produksi, juga tumbuh sebagai wirausahawan yang mandiri, inovatif dan berdaya saing," katanya.
Jamur Tiram
Dalam kegiatan BoC Volume 373, Syahrir dari Rumah Jamur Takalar hadir sebagai narasumber untuk membagikan pengalaman dalam mengembangkan usaha jamur tiram putih.
Dia memaparkan potensi komoditas tersebut, mulai dari teknik budidaya, pengelolaan produksi hingga peluang pengolahan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
"Jamur tiram putih memiliki peluang pengembangan agribisnis yang cukup luas. Selain dipasarkan dalam bentuk segar, juga dapat diolah menjadi beragam produk pangan, salah satunya jamur crispy," kata Syahrir.
Menurutnya, diversifikasi produk tersebut menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah hasil budidaya sekaligus memperluas jangkauan pasar.
"Pengolahan jamur tiram juga membuka peluang usaha bagi petani, kelompok tani, pelaku UMKM, dan masyarakat perdesaan," katanya lagi.
Nilai Ekonomi
Syahrir mengatakan, dengan pengelolaan produksi, pengemasan serta pemasaran yang tepat, hasil budidaya tidak hanya memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, juga dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Pada akhir kegiatan, Kabalai Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani menyampaikan apresiasi kepada narasumber, host, dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi.
"Pengalaman dan pengetahuan yang dibagikan diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus diterapkan dalam pengembangan usaha, khususnya budidaya dan pengolahan jamur tiram putih," katanya.
Jamaluddin Al Afgani mengingatkan bahwa penguatan kompetensi SDM, pengembangan P4S dan percepatan hilirisasi menjadi bagian dari upaya membangun agribisnis yang berkelanjutan.
"Dengan demikian, petani diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produksi, juga tumbuh sebagai wirausahawan yang mandiri, inovatif dan berdaya saing," katanya lagi. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]
Gowa of South Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
