Uji Pengetahuan dan Keterampilan, Siswa SMK PPN Kementan Ikuti ASAS Genap

Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Sembawa

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Uji Pengetahuan dan Keterampilan, Siswa SMK PPN Kementan Ikuti ASAS Genap
SMKPPN SEMBAWA: Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengatakan setiap butir soal dirancang untuk mengukur kemampuan analisis, pemecahan masalah dan penerapan konsep yang telah dipelajari selama proses pembelajaran.

 

Banyuasin, Sumsel (B2B) - SMK Pertanian Pembangunan Negeri (PPN) Sembawa mulai melaksanakan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) Genap Tahun Pelajaran 2025/2026. Kegiatan evaluasi pembelajaran berlangsung lima hari, 8 - 12 Juni 2026.

Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso pada Senin (8/6) mengatakan 335 siswa kelas X dan XI dari seluruh program keahlian mengikuti asesmen.

Mereka dari Program Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP), Agribisnis Ternak Unggas (ATU) dan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP).

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, masa depan ketahanan pangan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi muda yang dibina melalui pendidikan vokasi.

“Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan dinamika geopolitik global, kunci utamanya adalah inovasi dan sumber daya manusia yang tangguh," katanya.

Mentan Amran Sulaiman menambahkan, Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui asesmen dan standardisasi mutu pendidikan vokasi, kita memastikan lahirnya petani milenial dan wirausahawan muda pertanian yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di lapangan.

Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam proses evaluasi pembelajaran.

“Evaluasi semester bukan sekadar ujian, tetapi menjadi indikator keberhasilan penerapan teaching factory dan transfer teknologi yang telah diterima siswa dalam menyiapkan diri menuju pertanian modern,” katanya.

Sementara itu Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin menyampaikan bahwa pelaksanaan ASAS merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan vokasi pertanian.

“Kami memastikan lulusan pendidikan vokasi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan teknis dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri pertanian,” ujarnya.

SMKPPN Sembawa

Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengatakan pelaksanaan ASAS diikuti siswa kelas X terdiri atas 60 siswa ATPH, 63 siswa ATP, 32 siswa ATU, dan 31 siswa APHP. Sementara itu, peserta kelas XI meliputi 31 siswa ATPH, 62 siswa ATP, 29 siswa ATU, dan 27 siswa APHP.

"Pelaksanaan ASAS Genap tersebut, siswa kelas X mengikuti 12 mata pelajaran, sedangkan siswa kelas XI menempuh 15 mata pelajaran, disesuaikan kompetensi dan tingkat kelas masing-masing," katanya.

Budi Santoso menambahkan, asesmen menjadi instrumen penting mengukur capaian kompetensi peserta didik, baik dari aspek pengetahuan maupun keterampilan, sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan berikutnya dan dunia kerja di sektor pertanian.

Menurutnya, ASAS menjadi sarana evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari selama satu tahun pembelajaran.

“Melalui penilaian ini, kami berharap dapat memperoleh gambaran capaian belajar setiap siswa sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMK PPN Sembawa,” kata Budi Santoso.

Industri Pertanian

Kementan mentapkan kurikulum yang diterapkan telah diselaraskan kebutuhan industri pertanian. Oleh karena itu, melalui asesmen ini siswa diharapkan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi baik secara teori maupun praktik.

"Pelaksanaan ASAS tahun pelajaran 2025/2026 dilakukan secara daring untuk soal pilihan ganda maupun esai," kata Budi Santoso.

Setiap butir soal dirancang untuk mengukur kemampuan analisis, pemecahan masalah, serta penerapan konsep yang telah dipelajari selama proses pembelajaran.

"Targetnya, untuk memastikan lahirnya petani milenial dan wirausahawan muda pertanian yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di lapangan," ungkap Budi Santoso. [wulan/titin/timhumas smkppnsembawa]

 

 

 

 

 

 

Banyuasin of South Sumatera [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campu with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

 The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.