20 Tewas, 88 Hilang Akibat Bencana Longsor di Banjarnegara

20 Dead, 88 Missing in Central Indonesia Mudslide

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


20 Tewas, 88 Hilang Akibat Bencana Longsor di Banjarnegara
Pada Minggu, 20 mayat berhasil dievakuasi lumpur dan puing-puing rumah yang tertimbun sementara tipis kemungkinan menyelamatkan 88 korban yang masih hilang (Foto2: MailOnline)

Banjarnegara, Indonesia (B2B) - Hujan deras di Jawa Tengah mengakibatkan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 20 warga desa dan 88 korban lainnya masih dinyatakan hilang tertimbun tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, kata pejabat setempat

Warga Desa Jemblung di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah mengatakan mereka mendengar suara menderu diikuti oleh longsoran tanah merah yang menimbun lebih dari 100 rumah, Jumat malam.

"Longsor itu tampak seperti itu tanah yang menggelinding. Saya berhasil menyelamatkan seorang wanita hamil, tapi tidak bisa menyelamatkan orang lain," kata Subroto, warga setempat.

Dia mengatakan salah satu sisi bukit longsor dan longsor susulan. "Dalam lima menit, ada tiga (tanah longsor besar) dan menyapu segalanya," katanya.

Pada Minggu, 20 mayat berhasil dievakuasi lumpur dan puing-puing rumah yang tertimbun sementara tipis kemungkinan menyelamatkan 88 korban yang masih hilang, kata Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Presiden Joko Widodo langsung meninjau ke Banjarnegara, sekitar 460 kilometer di timur Jakarta, pada Minggu untuk bertemu dengan korban longsor dan sekitar 570 warga yang dievakuasi ke tempat penampungan sementara. Sebelas warga yang terluka dirawat di rumah sakit.

Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, mengatakan Sabtu bahwa beberapa petugas penyelamat mendengar suara minta tolong di balik reruntuhan longsor, tetapi mereka tidak memiliki peralatan untuk menggali. "Lumpur, medan berat dan cuaca buruk menghambat upaya penyelamatan," kata Nugroho.

Traktor dan buldoser kemudian datang untuk membantu evakuasi para korban.

"Rasanya seperti mimpi buruk. Kami ... tiba-tiba mendengar suara gemuruh yang mengerikan dan kami segera melarikan diri dari tanah longsor," kata Wahono, warga yang selamat dengan empat anggota keluarga. "Banyak yang terlambat menyelamatkan diri dan mereka tertimbun longsor."

Wahono, yang juga hanya menggunakan satu nama, mengatakan ia mendengar orang-orang berteriak dan memohon bantuan dalam hujan lebat dan gelap. Namun dia mengatakan dia tidak mampu melakukan apa-apa selain berjalan dengan keluarganya ke tempat yang aman.

Longsor tersebut adalah yang kedua dalam beberapa hari terakhir di Jawa Tengah yang padat penduduk. Lumpur dan batu menghantam Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, Kamis, menewaskan sedikitnya satu warga.

Hujan musiman dan pasang tinggi dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan puluhan kali bencana tanah longsor dan banjir di Indonesia, di mana jutaan orang hidup di daerah pegunungan atau dekat dataran rawan banjir dekat sungai, seperti dilansir MailOnline.

Banjarnegara, Indonesia - Heavy rains in central Indonesia loosened soil and collapsed a hill, setting off a landslide that killed at least 20 villagers and left 88 others missing under piles of mud, officials said Sunday.

Residents of Jemblung village in Central Java province's Banjarnegara district said they heard a roaring sound followed by the rain of red soil that buried more than 100 houses late Friday.

"The landslide looked like it was spinning down. I managed to rescue a pregnant woman, but could not save the other man," said Subroto, who like many Indonesians uses only one name.

He said one side of the hill collapsed and then another. "In five minutes, there were three (major landslides) and they swept away everything," he said.

By Sunday, 20 bodies have been pulled from the mud and the wreckage of crumpled homes while hopes faded that 88 people still missing will be find alive, said Sutopo Purwo Nugroho, the spokesman for Indonesia's Disaster Mitigation Agency.

President Joko Widodo was traveling to Banjarnegara, about 460 kilometers (285 miles) east of the capital, Jakarta, on Sunday to meet with survivors and about 570 residents who were evacuated to temporary shelters. Eleven injured villagers were hospitalized.

Nugroho, a spokesman for the National Disaster Mitigation Agency, said Saturday that some rescuers heard what sounded like calls for help coming from the debris, but they didn't have equipment to dig. "Mud, rugged terrain and bad weather hampered our rescue efforts," Nugroho said.

Tractors and bulldozers were later brought in.

"It was like a nightmare. ... We suddenly heard a terrible roar and we were immediately fleeing from the rain of red soil," said Wahono, a resident who survived with four family members. "Many failed and they were buried in the ground."

Wahono, who also uses only one name, said he heard people screaming and pleading for help in the heavy rain and darkness. But he said he was unable to do anything other than run with his family to safety.

The landslide was the second in several days on densely populated Java island. Mud and rocks hit Central Java's Wonosobo district on Thursday, killing at least one villager.

Seasonal rains and high tides in recent days have caused dozens of landslides and widespread flooding across much of Indonesia, a chain of 17,000 islands where millions of people live in mountainous areas or near fertile flood-prone plains close to rivers.