2019 Tembus 5%, Kontribusi Koperasi dan UKM terhadap PDB

Indonesian Cooperatives and SMEs Contribute Positively to GDP

Reporter : Gusmiati Waris
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


2019 Tembus 5%, Kontribusi Koperasi dan UKM terhadap PDBPROSPEK UKM: Karo Perencanaan Kemenkop UKM, Ahmad Zabadi; Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto; dan pelaku UKM brand Du´Anyam, Juan Firmansyah (Foto: B2B/Mya)

Jakarta (B2B) - Kontribusi koperasi dan usaha kecil dan menengah (KUKM) terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) pada 2019 diyakini menembus level 5%. Hal itu merujuk pada kinerja positif dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan kredit perbankan 12,6%, tetap tangguh terhadap krisis moneter 1998 hingga 2018, dan meningkatnya minat generasi milenial menjadi entrepreneur memanfaatkan smartphone.

Hal itu dikemukakan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Zabadi; Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto; dan pelaku UKM brand Du´Anyam, Juan Firmansyah pada diskusi: ´Proyeksi Perekonomian 2019, Peluang dan Tantangan KUKM´ di Jakarta, Rabu (7/11).

Ahmad Zabadi mengatakan pemerintah optimistis terhadap kinerja positif KUKM lantaran selama empat tahun terakhir mengalami tren peningkatan signifikan, dan pengembangan performa koperasi terus meningkat terbukti dari masuknya dua koperasi besar Indonesia yakni Koperasi Warga Semen Gresik dan Koperasi Kisel masuk jajaran 300 koperasi besar tingkat global.

"Buktinya, kontribusi koperasi terhadap PDB meningkat menjadi 4,48 persen dari sebelumnya satu koma. Begitu pula dengan rasio kewirausahaan sudah di level 3,1 persen dari sebelumnya 1,65 persen. Selain Kisel dan Koperasi Warga Semen Gresik masih banyak koperasi besar lain di Indonesia seperti Koperasi Sidogiri dan Kospin Jasa," kata Ahmad Zabadi.

Dia pun optimistis pertumbuhan koperasi kian meningkat pada 2019, kontribusinya menembus level lima persen terhadap PDB. Sama halnya dengan UKM, koperasi didukung kemajuan teknologi akan mendorong tumbuhnya entrepreneur, dengan meningkatnya minat generasi milenial terhadap usaha produktif dengan memanfaatkan teknologi smartphone.

Pendapat senada dikemukakan Ryan Kiryanto yang meyakini pelaku UKM akan survive di tengah ketidakpastian ekonomi global. Indikator lain adalah pertumbuhan kredit perbankan saat ini sekitar 12,6% yang didominasi sektor pertanian, industri, perdagangan.

"Para pelaku UKM di Indonesia banyak belajar dari krisis yang dialami negeri ini. Mulai dari krisis moneter 1998, 2003, 2005, 2008, 2017, hingga 2018. Mereka menjadi lebih tangguh dan responsif ketika krisis global melanda ke Indonesia. Meskipun ada pelambatan kredit perbankan di sektor UMKM, tapi saya yakin itu hanya sementara dan kembali meningkat pada 2019," katanya.

Sementara Juan Firmansyah menyoroti  potensi untuk mengembangkan usaha masih tetap besar di tengah tekanan perekonomian baik dari sisi internal maupun eksternal.

 Kendala utama adalah ongkos produksi yakni pengiriman dari sentra produksi ke pusat pemasaran, namun pelaku UKM tetap optimistis melalui pengembangan layanan online.

"Kita mulai mengembangkan website yang mendisplai seluruh produk kita hingga bisa dinikmati seluruh dunia. Pokoknya kita harus lebih kreatif dalam mengembangkan pasar," kata Juan Firmansyah, salah satu pemegang lisensi suvenir Asian Games 2018.

Jakarta (B2B) - Contribution of cooperatives and small and medium enterprises to gross domestic income in Indonesia next year believed to reach 5%. It refers to a positive performance in the last four years, bank credit growth of 12.6%, survive to face the monetary crisis of 1998 to 2018, and the increasing interest of millennial generations to become entrepreneurs by using smartphones.

It was stated by the Head of Planning Bureau at the  Cooperatives and SMEs Ministry, Ahmad Zabadi; BNI Bank Chief Economist Ryan Kiryanto; and SME entrepreneur Juan Firmansyah at the discussion: ´the 2019 Economic Projection 2019, Cooperatives and SMEs Opportunities and Challenges´ here on Wednesday (November 11).

Mr Zabadi said the central government was optimistic about the positive performance of cooperatives and SMEs in the past four years, and performance of cooperatives in Indonesia is recognized worldwide by the inclusion of Semen Gresik Citizen Cooperative and Kisel Cooperatives in the world´s 300 best cooperatives.

"It proved that the contribution of cooperatives to GDP increased to 4.48 percent of the previous one point. Similarly, the entrepreneurial ratio was at the level of 3.1 percent from 1.65 percent," Mr Zabadi said.

He is also optimistic that the growth of cooperatives will increase in 2019, contributing to the level of five percent of GDP. As with SMEs, cooperatives are supported by technological advances that will encourage the growth of entrepreneurs, with the increasing interest of the millennial generation towards productive businesses using smartphone technology.

Similar opinion was said by Ryan Kiryanto who believes that SMEs will survive in the midst of global economic uncertainty. Another indicator is that bank credit growth is currently around 12.6%, dominated by agriculture, industry, trade.

"SMEs in Indonesia learn a lot of the economic crisis. Starting from the monetary crisis of 1998, 2003, 2005, 2008, 2017, until 2018. They became more resilient and responsive when the global crisis hit Indonesia," he said.

While Mr Firmansyah highlighted the potential for developing business remains large in the midst of the global economic crisis. The main obstacle is the cost of production of the shipment from production centers to the marketing center.

"We are starting to develop a website to display all the main products on the internet. We must be creative  opening market opportunities," said Mr Firmansyah, one of the licensees for the 2018 Asian Games souvenir.