Konferensi Ulama Tiga Negara Deklarasikan Prinsip Islam Anti Kekerasan

Muslim Scholars: Suicide Attacks Violate Islamic Principles

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


Konferensi Ulama Tiga Negara Deklarasikan Prinsip Islam Anti KekerasanFoto: Associated Press/MailOnline

CENDEKIAWAN Muslim dari tiga negara mendeklarasikan bahwa ekstrimisme dan tindakan kekerasan terorisme, termasuk serangan bunuh diri, bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, deklarasi juga bertujuan mengingatkan Taliban untuk mengakhiri aksi kekerasan mereka.

Tujuh puluh cendekiawan terkemuka dari Afghanistan, Pakistan dan Indonesia mengeluarkan fatwa, atau dekrit, pada sebuah konferensi di Indonesia untuk membahas tentang cara-cara mencapai perdamaian dan stabilitas di Afghanistan.

Taliban mendesak ulama Islam untuk memboikot konferensi Bogor dan memperingatkan ulama Afghanistan, "Jangan memberikan kesempatan kepada orang-orang kafir yang menyerang di Afganistan untuk menyalahgunakan nama dan partisipasi Anda dalam konferensi ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan jahat mereka."

Presiden RI Joko Widodo, yang membuka pertemuan satu hari, menekankan komitmen Indonesia untuk membantu membangun perdamaian di negara ini. Jokowi mengatakan konferensi itu adalah bagian dari upaya Indonesia untuk mendorong peran ulama Islam, atau ulama, dalam mempromosikan perdamaian di Afghanistan.

"Melalui suara ulama, terutama dari Afghanistan, Pakistan dan Indonesia, diharapkan semangat persaudaraan untuk perdamaian di Afghanistan dapat diperkuat," kata Jokowi.

Dia mengatakan "ulama adalah agen perdamaian ... mereka memiliki kekuatan untuk mendorong perdamaian di tengah masyarakat."

Dalam sebuah deklarasi, para ulama mengatakan bahwa Islam adalah agama damai dan mencela segala jenis ekstremisme dan tindakan terorisme.

"Kami menegaskan kembali bahwa kekerasan dan terorisme tidak dapat dan tidak boleh dikaitkan dengan agama, kebangsaan, peradaban atau kelompok etnis apa pun, seperti ekstremisme dan terorisme kekerasan dalam segala bentuk dan manifestasinya termasuk kekerasan terhadap warga sipil dan serangan bunuh diri bertentangan dengan prinsip-prinsip suci Islam," bunyi deklarasi itu.

Konferensi di istana presiden di Bogor, sebuah kota di Jawa Barat di pinggiran Jakarta, diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia seperti dikutip Associated Press yang dilansir MailOnline.

MUSLIM scholars from three countries issued an edict Friday saying that violent extremism and terrorism, including suicide attacks, are against Islamic principles, in an effort to convince the Taliban to end their violence.

Seventy prominent scholars from Afghanistan, Pakistan and Indonesia issued the fatwa, or edict, at a conference in Indonesia on ways to achieve peace and stability in Afghanistan.

The Taliban urged Islamic clerics to boycott the Bogor conference and warned Afghan clerics, "Do not afford an opportunity to the invading infidels in Afghanistan to misuse your name and participation in this conference as means of attaining their malicious objective."

Indonesian President Joko "Jokowi" Widodo, who opened the one-day meeting, stressed Indonesia´s commitment to helping build peace in the country. Jokowi said the conference was part of Indonesia´s efforts to encourage the role of Islamic clerics, or ulema, in promoting peace in Afghanistan.

"Through the voice of ulema, mainly from Afghanistan, Pakistan and Indonesia, presumably the spirit of brotherhood for peace in Afghanistan can be strengthened," Jokowi said.

He said "ulema are the agent of peace ... they have the power to form the face of peaceful people."

In a declaration, the scholars said Islam was a religion of peace and denounced all kinds of violent extremism and terrorism.

"We reaffirm that violence and terrorism cannot and should not be associated with any religion, nationality, civilization or ethnic group, as violent extremism and terrorism in all its forms and manifestation including violence against civilians and suicide attacks are against the holy principles of Islam," the declaration said.

The conference at the presidential palace in Bogor, a West Java town on the outskirts of Jakarta, was organized by the Indonesian Ulema Council.